Jakarta, Gotrade News - Koreksi harga ini menjadi momen penting bagi kamu untuk melihat kembali arah pasar energi, mengingat reli harga minyak sebelumnya telah mencapai 11 persen dalam sepekan terakhir.
Key Takeaways
-
Harga minyak Brent turun hingga 3,4 persen ke bawah level US$65 per barel.
-
Penundaan aksi militer AS terhadap Iran menjadi pemicu utama aksi jual di pasar.
-
Inventaris minyak mentah AS meningkat tajam, menambah tekanan pada harga.
Harga minyak mentah Brent sempat anjlok hingga 3,4 persen dan diperdagangkan di bawah level US$65 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$60. Penurunan ini terjadi setelah Trump menyatakan telah mendapat jaminan bahwa Iran akan menghentikan kekerasan terhadap demonstran, sehingga mengurangi urgensi respon militer AS secara langsung.
Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan produksi Iran maupun jalur pengiriman utama di wilayah tersebut. Namun, situasi di lapangan masih tergolong cair dan berisiko tinggi.
Faktor Geopolitik Masih Dominan
Otoritas penerbangan sempat menutup wilayah udara di sekitar Teheran, sementara AS diketahui melakukan redeploy personel militer di Qatar dan basis lainnya di kawasan tersebut. Hal ini menandakan bahwa meskipun serangan tertunda, kesiagaan militer tetap tinggi.
Menurut Robert Rennie, kepala riset komoditas di Westpac Banking Corp, kekuatan harga Brent yang didorong faktor geopolitik kemungkinan masih akan berlanjut. Ia memprediksi harga bisa menguji level US$75 jika ketegangan kembali memuncak, namun juga memperingatkan potensi harga jatuh (collapse) jika situasi dinyatakan aman sepenuhnya.
Selain isu Iran, pasar juga menyoroti komunikasi antara Trump dan Pejabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, yang membahas topik minyak. Dalam wawancara dengan Thomson Reuters Corporation, Trump menyebut sebaiknya Venezuela tetap berada di OPEC, meskipun belum ada diskusi resmi dengan Caracas mengenai hal ini.
Stok Minyak AS Meningkat
Di luar faktor perang, data fundamental menunjukkan adanya penumpukan pasokan. Data pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah nasional naik sebesar 3,4 juta barel pekan lalu, kenaikan terbesar sejak awal November.
Kombinasi antara meningkatnya inventaris, aliran minyak Venezuela ke AS, serta gangguan di terminal Laut Hitam telah menekan harga WTI secara signifikan dibandingkan Brent.

Diskon harga WTI terhadap Brent kini mendekati level terlebar dalam 15 bulan terakhir, seperti terlihat pada grafik di atas. Bagi investor, melebarnya selisih ini bisa menjadi indikator penting dalam melihat dinamika pasokan minyak domestik AS dibandingkan pasar global.
Referensi:
-
Bloomberg, Oil Falls After Trump Signals US Response to Iran Is On Hold. Diakses pada 15 Januari 2026
-
Featured Image: Shutterstock











