Jakarta, Gotrade News - Pasca kenaikan digit ganda selama tiga tahun beruntun, indeks S&P 500 menutup perdagangan tahun 2025 di level 6.845,50. Wall Street kini bertaruh apakah tren positif ini sanggup mencetak rekor "four-peat" (kenaikan empat tahun berturut-turut) di tahun 2026.
Bagi investor, memahami divergensi target harga dari berbagai institusi besar menjadi kunci untuk mengatur strategi dan ekspektasi imbal hasil tahun ini.
Key Takeaways
- Analis memproyeksikan S&P 500 tetap tumbuh di 2026 dengan rentang target kenaikan 3,7% hingga 18%.
- Sektor AI dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed masih menjadi bahan bakar utama optimisme pasar.
- Valuasi saham yang tinggi menuntut kewaspadaan ekstra meski probabilitas resesi dinilai rendah oleh para ahli strategi.
Baca Juga: Mobil Listrik Mulai Ditinggalkan? Tren Hibrida Kini Ambil Alih Pasar
Mayoritas institusi keuangan memprediksi pasar saham AS akan kembali mencatatkan kinerja positif, namun dengan tingkat optimisme yang sangat bervariasi.
Berdasarkan data yang dilansir dari CNN, target level indeks di akhir tahun 2026 terentang dari 7.100 dalam skenario konservatif Bank of America hingga menyentuh level 8.000-an menurut prediksi analis lain yang lebih agresif.

Sejarah pasar modal mencatat pola menarik ketika indeks acuan ini berhasil naik minimal 15 persen dalam satu tahun kalender. Kepala strategi teknikal LPL Financial, Adam Turnquist, menyebut bahwa tahun berikutnya rata-rata menghasilkan pengembalian (return) sekitar 8 persen, meski sering diwarnai penurunan sementara atau drawdown rata-rata sebesar 14 persen di tengah tahun.

Faktor Pendorong Utama
Narasi bullish tahun ini masih didominasi oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dianggap membuka era baru profitabilitas bagi perusahaan AS. Dan Ives dari Wedbush Securities secara spesifik menjagokan saham-saham teknologi besar seperti NVIDIA, Microsoft, Apple, Tesla, dan Palantir sebagai pilihan utamanya untuk tahun 2026.
Selain sektor teknologi, ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed turut memberikan angin segar bagi valuasi aset ekuitas secara umum. Ahli strategi dari JPMorgan Chase menilai dalam catatannya bahwa ekonomi AS akan tetap menjadi mesin pertumbuhan global, didukung oleh belanja modal (capex) perusahaan yang mencapai rekor tertinggi.
Perluasan partisipasi pasar juga mulai terlihat positif, di mana indeks Dow Jones mulai mengimbangi kinerja Nasdaq sejak akhir tahun lalu. Peter Oppenheimer dari Goldman Sachs menyatakan bahwa pihaknya tetap konstruktif terhadap pasar saham seiring pertumbuhan laba perusahaan, meskipun imbal hasil indeks mungkin akan lebih rendah dibandingkan tahun 2025.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Investor tetap tidak boleh mengabaikan risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tarif baru yang berpotensi memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu. Deutsche Bank dan beberapa analis lainnya menyoroti bahwa jika inflasi terbukti membandel di tahun baru, hal ini dapat mempersulit jalur pemangkasan suku bunga bank sentral dan menekan harga saham.
Valuasi saham AS yang kini tergolong mahal jika dibandingkan dengan pendapatan perusahaan juga menjadi sorotan tajam di kalangan analis fundamental. Ed Yardeni dari Yardeni Research menargetkan S&P 500 di level 7.700, namun ia tetap mengingatkan bahwa probabilitas koreksi pasar akibat ketakutan resesi berada di level rendah 20 persen.
Baca Juga: Disney Bayar Denda $10 Juta: Isu Privasi Data Kembali Mencuat
Referensi:
- CNN, What to expect from stocks in 2026. Diakses pada 2 Januari 2026
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.












