Jakarta, Gotrade News - Dividen sektor energi kembali jadi topik, setelah yield rata-rata sektor ini disebut 3,3% di indeks S&P 500. The Motley Fool menilai ada dua saham ber-yield tinggi yang berpotensi konsisten menopang pendapatan dividen.
Key Takeaways:
-
Sektor energi disebut punya dividend yield 3,3%, jauh di atas rata-rata indeks 1,1%.
-
Brookfield Renewable mengandalkan kontrak listrik jangka panjang yang banyak terkait inflasi.
-
Enbridge menopang dividen dari kontrak dan tarif yang mayoritas bersifat stabil dan teratur.
Baca Juga: Trump Tekan Greenland Lagi, Eropa Siapkan Opsi Balasan Tarif
Sorotan ini relevan karena pasar belakangan lebih sensitif terhadap arus kas yang stabil. Investor cenderung mencari kombinasi yield menarik dan visibilitas pendapatan.
Kenapa energi dan energi terbarukan ikut jadi incaran dividen
Sektor energi disebut memiliki yield tertinggi kedua di S&P 500, yaitu 3,3%. Angka itu disebut sekitar tiga kali rata-rata indeks yang berada di 1,1%.
Dalam kerangka itu, energi terbarukan ikut mendapat ruang karena permintaan listrik bersih tetap kuat. Narasi utamanya bukan lonjakan harga, tetapi ketahanan kontrak dan prediktabilitas kas.
Brookfield Renewable dan model arus kas yang relatif stabil
Brookfield Renewable digambarkan sebagai produsen energi terbarukan global yang menjual listrik lewat kontrak jangka panjang. Sekitar 90% kapasitasnya disebut masih terikat kontrak dengan rata-rata tenor 13 tahun.
Sebagian besar kontraknya juga dikaitkan dengan inflasi, dengan porsi sekitar 70% dari pendapatan. Struktur ini membuat arus kas dinilai lebih stabil untuk mendukung dividen sekitar 3,8%.
Pendorong pertumbuhan berikutnya datang dari kenaikan tarif saat kontrak lama berakhir, pengembangan proyek, dan akuisisi. Perusahaan menargetkan pertumbuhan funds from operations lebih dari 10% per tahun hingga 2030.
Dengan target tersebut, rencana kenaikan dividen 5% sampai 9% per tahun dinilai lebih masuk akal. Catatan historisnya menyebut kenaikan dividen setidaknya 5% selama 14 tahun beruntun.
Enbridge dan daya tahan model infrastruktur energi
Enbridge dipaparkan sebagai operator infrastruktur energi besar di Amerika Utara, dari pipa hingga utilitas gas. Sekitar 98% pendapatan tahunannya disebut ditopang kontrak jangka panjang dan struktur tarif yang diatur.
Kerangka itu mendukung dividend yield sekitar 5,8% dan ruang kenaikan bertahap. Basis bisnisnya dinilai stabil, sementara ekspansi datang dari proyek organik dan akuisisi.
Enbridge juga disebut punya backlog proyek bernilai miliaran dolar yang berjalan sampai akhir dekade. Proyeksi internalnya mengarah ke pertumbuhan arus kas per saham sekitar 3% per tahun, lalu berakselerasi mendekati 5% mulai 2027.
Kenaikan dividen berikutnya diperkirakan berada di kisaran 3% sampai 5% per tahun. Pada 2026, perusahaan disebut mencatat kenaikan dividen tahunan ke-31.
Bagi pembaca Indonesia, konteksnya ada pada perbedaan profil risiko antara produsen energi terbarukan dan operator infrastruktur. Perubahan suku bunga, inflasi, dan regulasi bisa mengubah daya tarik yield dari waktu ke waktu.
Untuk yang memantau saham terkait, Enbridge adalah salah satu nama yang disorot karena yield tinggi dan basis kontrak yang stabil. Sementara itu, Brookfield Renewable diposisikan sebagai opsi energi terbarukan dengan kontrak panjang dan pertumbuhan dividen yang terarah.
Baca Juga: Trump Tekan Greenland Lagi, Eropa Siapkan Opsi Balasan Tarif
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!











