Jakarta, Gotrade News - Indeks S&P 500 menutup tahun 2025 dengan kenaikan lebih dari 17 persen, menandai tahun ketiga reli pasar yang didorong oleh antusiasme kecerdasan buatan (AI).
Namun, kepemimpinan pasar kini mulai bergeser dari sekadar produsen chip ke perusahaan infrastruktur penyimpanan data yang mendukung teknologi tersebut.
Key Takeaways
- Fokus investasi AI meluas ke sektor penyimpanan data (data storage) seiring belanja infrastruktur masif dari perusahaan teknologi raksasa.
- Saham sektor konsumer dan ritel mengalami tekanan berat akibat ketidakpastian tarif dan inflasi di bawah pemerintahan baru AS.
- Valuasi sektor kesehatan yang tertekan kini mulai dilirik investor strategis sebagai potensi akuisisi di tahun 2026.
Baca Juga: UBS: 10 Saham Multibagger 2026 di Tengah Momentum Ritel AS
Dominasi Infrastruktur Data
Tema utama tahun ini adalah perluasan perdagangan AI ke perusahaan yang membangun dan menyimpan data. Raksasa teknologi atau hyperscalers seperti Microsoft Corporation, Amazon.com, Inc., Alphabet Inc., dan Meta Platforms, Inc. telah berkomitmen menghabiskan lebih dari $440 miliar dalam 12 bulan ke depan untuk membangun kapabilitas AI.

Aliran dana ini menguntungkan perusahaan penyimpanan data seperti Sandisk, Western Digital Corporation, dan Seagate Technology Holdings plc yang menjadi tiga dari empat saham dengan kinerja terbaik di S&P 500. Selain itu, pendatang baru di indeks seperti Robinhood Markets, Inc. dan Carvana Co. juga mencatatkan keuntungan tiga digit.
Di sisi lain, Palantir Technologies Inc. melanjutkan tren positif dengan kenaikan tiga digit selama tiga tahun berturut-turut berkat dukungan kuat dari trader ritel. Meski demikian, valuasi Palantir kini tergolong mahal dengan rasio harga terhadap laba (P/E) di atas 180 kali, menjadikannya salah satu saham termahal di indeks.

Sentimen merger dan akuisisi (M&A) juga menjadi pendorong utama, terlihat pada saham Warner Bros. Discovery yang melonjak hampir 175 persen di tengah spekulasi pengambilalihan. Persaingan ketat terjadi antara Paramount dan Netflix, Inc. yang berupaya memperkuat penawaran mereka untuk mengakuisisi raksasa media tersebut.

Tekanan Sektor Konsumer
Sebaliknya, ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump memukul saham-saham sektor konsumer. The Trade Desk, Inc. menjadi emiten dengan kinerja terburuk di indeks dengan penurunan hampir 70 persen, diikuti oleh Coinbase Global, Inc. yang juga melemah.

Saham ritel seperti Deckers Outdoor Corporation dan Lululemon Athletica Inc. anjlok signifikan setelah bertahun-tahun mencetak pertumbuhan. Tekanan serupa juga dialami sektor kebutuhan pokok, di mana perusahaan seperti The Clorox Company, Lamb Weston Holdings, Inc., Campbell Soup Company, dan Chipotle Mexican Grill, Inc. masuk dalam daftar 20 saham berkinerja terburuk.
Ketidakpastian kebijakan kesehatan turut menekan sektor managed care, dengan UnitedHealth Group Incorporated dan Centene Corporation kehilangan lebih dari 30 persen nilainya. Namun, manajer investasi Michael Burry melihat penurunan valuasi ini sebagai peluang potensial, memprediksi adanya target akuisisi menarik di sektor ini pada tahun 2026 jika harga tetap murah.

Baca Juga: Ekonomi AS 2025: Pertumbuhan GDP Tinggi, Tapi Ada Masalah Baru
Referensi:
- Bloomberg, These Stocks Are the Market’s Biggest Winners and Losers in 2025. Diakses pada 2 Januari 2026
- Featured Image: Shutterstock
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











