Jakarta, Gotrade News - Seorang ekonom AS memperingatkan tanda bubble pasar saham, setelah menilai The Fed mulai melunak dari pengetatan inflasi. Peringatan ini muncul saat inflasi headline AS disebut masih 2,7%, sehingga arah kebijakan moneter kembali jadi fokus pasar.
Key Takeaways:
-
Steve Hanke menilai The Fed sudah beralih ke kebijakan lebih longgar meski inflasi masih 2,7%.
-
Ia menyebut penghentian quantitative tightening dan rencana pembelian Treasury sebagai sinyal pelonggaran.
-
Hanke memperingatkan bubble di pasar saham dan kenaikan aset keras jika uang terus longgar.
Baca Juga: Micron Mulai Bangun Megafab $100 Miliar di New York
Finbold melaporkan Steve Hanke, profesor ekonomi terapan di Johns Hopkins University, menilai The Fed sudah meninggalkan perang melawan inflasi. Ia juga menilai arah kebijakan menjadi lebih longgar di bawah tekanan politik.
Dalam wawancara di The David Lin Report, Hanke menyebut serangan terhadap The Fed bertujuan mendorong pelonggaran kondisi moneter. Ia menekankan inflasi headline Desember tetap 2,7%, sama seperti November, sehingga masih di atas target 2% The Fed.
Hanke menilai perubahan sikap itu terlihat dari kebijakan neraca bank sentral. Ia menyatakan The Fed menghentikan quantitative tightening pada Desember dan mulai memperluas neraca lagi, termasuk rencana membeli $40 miliar Treasury bills.
Menurut Hanke, langkah tersebut setara dengan monetisasi defisit, sehingga pasokan uang naik dan tekanan harga sulit mereda. Ia menyimpulkan, “we definitely have a bubble in the stock market.”
Ia juga mengkritik usulan Trump untuk membatasi bunga kartu kredit 10% karena dianggap sebagai kontrol harga. Hanke menambahkan perubahan regulasi yang meningkatkan kapasitas pinjaman bank komersial bisa mempercepat pertumbuhan uang lewat ekspansi kredit.
Dalam pandangannya, uang yang lebih longgar cenderung mengangkat aset keras. Ia menyebut emas, perak, platinum, dan tembaga berada di level tinggi, serta lithium dinilai mulai bergerak naik.
Untuk investor, inti risikonya ada pada dua jalur yang saling terkait, arah kebijakan moneter dan ekspektasi inflasi. Jika pelonggaran berlanjut, selera risiko bisa terdorong, tetapi volatilitas juga bisa meningkat saat valuasi diuji.
Baca Juga: IMF Naikkan Proyeksi Ekonomi 2026, AI Menahan Tekanan Tarif
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!











