Dalam options trading, banyak pemula langsung fokus pada premi, strike price, atau potensi profit, tetapi melewatkan satu konsep paling dasar: underlying asset. Padahal, tanpa memahami underlying asset, options sering terlihat seperti instrumen yang “bergerak sendiri” dan sulit diprediksi.
Underlying asset adalah fondasi dari seluruh kontrak options. Pergerakan nilainya menjadi sumber utama perubahan harga options, baik call maupun put. Artikel ini membahas apa itu underlying asset dalam options, mengapa harganya sangat krusial, serta contoh sederhana agar konsepnya lebih mudah dipahami.
Apa Itu Underlying Asset dalam Options?
Underlying asset adalah aset dasar yang menjadi acuan nilai sebuah kontrak options. Ketika kamu membeli atau menjual options, kamu sebenarnya tidak langsung memperdagangkan options itu sendiri, tetapi mendapatkan hak atau kewajiban yang nilainya bergantung pada underlying asset.
Underlying asset dalam options bisa berupa:
-
Saham
-
ETF
-
Indeks
-
Aset lain yang diperdagangkan di pasar
Melansir Investopedia, options tidak memiliki nilai intrinsik tanpa underlying asset. Seluruh kontrak options selalu merujuk pada aset tertentu dengan harga dan periode waktu yang jelas.
Dalam konteks ini, memahami underlying asset options sama pentingnya dengan memahami kontraknya sendiri.
Mengapa Harga Underlying Asset Krusial?
Harga underlying asset adalah penggerak utama nilai options. Perubahan kecil pada harga aset dasar bisa berdampak besar pada harga options, tergantung struktur kontraknya.
Hubungan antara underlying dan call option
Call option memberi hak untuk membeli underlying asset di harga tertentu. Jika harga underlying naik mendekati atau melewati strike price, nilai call option cenderung meningkat.
Sebaliknya, jika harga underlying bergerak menjauh dari strike price atau stagnan terlalu lama, nilai call option bisa menurun karena faktor waktu.
Hubungan antara underlying dan put option
Put option memberi hak untuk menjual underlying asset di harga tertentu. Ketika harga underlying turun mendekati atau melewati strike price, nilai put option cenderung meningkat.
Jika harga underlying justru naik atau tidak bergerak sesuai ekspektasi, nilai put option akan tertekan.
Dalam options trading, memahami pergerakan underlying asset sering lebih penting daripada menebak arah harga options itu sendiri. Yuk, coba options trading sekarang!
Underlying Asset Menentukan Karakter Options
Tidak semua underlying asset memiliki karakter yang sama. Inilah alasan mengapa options pada aset tertentu terasa lebih “tenang”, sementara yang lain sangat fluktuatif.
Likuiditas underlying memengaruhi options
Underlying asset yang likuid biasanya menghasilkan options yang juga lebih likuid. Ini membuat spread lebih sempit dan eksekusi lebih efisien.
Sebaliknya, underlying yang jarang diperdagangkan sering menghasilkan options dengan likuiditas rendah dan risiko eksekusi lebih tinggi.
Volatilitas underlying memengaruhi harga options
Aset dasar yang volatil cenderung menghasilkan options dengan premi lebih mahal. Ini karena peluang pergerakan harga yang besar lebih tinggi.
Sebaliknya, underlying yang stabil biasanya memiliki options dengan premi lebih rendah, tetapi pergerakannya juga lebih terbatas.
Contoh Underlying Asset dalam Options
Bayangkan sebuah saham diperdagangkan di harga US$100.
Seorang trader membeli call option dengan:
-
Underlying asset: saham tersebut
-
Strike price: US$105
-
Expiry: satu bulan
Jika harga saham naik ke US$115 sebelum expiry, call option tersebut memiliki nilai karena hak membeli di US$105 menjadi relevan.
Namun jika harga saham tetap di sekitar US$100 hingga mendekati expiry, call option bisa kehilangan sebagian besar nilainya, meskipun harga tidak turun drastis.
Contoh ini menunjukkan bahwa options selalu mengikuti cerita underlying asset, bukan sebaliknya.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Banyak kesalahan options trading berakar dari kurangnya pemahaman terhadap aset dasar.
- Kesalahan pertama adalah memilih options tanpa benar-benar memahami bisnis atau karakter underlying asset. Options tidak menghilangkan risiko fundamental dari aset dasar.
- Kesalahan kedua adalah fokus pada harga options tanpa memperhatikan posisi harga underlying terhadap strike price dan expiry.
- Kesalahan ketiga adalah mengabaikan volatilitas underlying. Aset yang terlalu volatil bisa membuat options terlihat mahal dan sulit dikelola bagi pemula.
Cara Menggunakan Pemahaman Underlying Asset Secara Lebih Bijak
Bagi pemula, langkah yang lebih aman adalah:
-
Memilih underlying asset yang familiar
-
Mengamati pergerakan harga historis
-
Memahami faktor yang memengaruhi harga aset dasar
Dengan pendekatan ini, options menjadi alat turunan dari pemahaman pasar, bukan instrumen terpisah yang membingungkan.
Kesimpulan
Underlying asset adalah inti dari options trading. Tanpa memahami aset dasar options, sulit menilai risiko dan potensi sebuah kontrak options secara utuh.
Harga underlying asset menentukan arah, kecepatan, dan karakter pergerakan options. Dengan memahami hubungan ini, pemula dapat mengambil keputusan yang lebih sadar risiko dan terstruktur.
Jika kamu ingin mulai mempelajari options trading dari fondasi yang benar, kamu bisa mengeksplorasi options pada berbagai underlying asset melalui aplikasi Gotrade dan mempelajarinya secara bertahap sesuai tujuan dan toleransi risikomu.
FAQ
Apa itu underlying asset dalam options?
Underlying asset adalah aset dasar yang menjadi acuan nilai kontrak options, seperti saham atau ETF.
Apakah options bisa bergerak tanpa underlying?
Tidak. Pergerakan options selalu bergantung pada harga underlying asset, waktu, dan volatilitas.
Underlying asset apa yang cocok untuk pemula?
Underlying yang likuid dan relatif stabil biasanya lebih ramah untuk pemula.











