Dalam praktik trading, hasil akhir tidak hanya ditentukan oleh arah harga. Banyak trader sudah benar membaca market, tetapi tetap mendapatkan hasil yang lebih buruk dari perhitungan awal. Penyebabnya sering kali bukan strategi, melainkan biaya trading implisit, terutama spread dan slippage.
Memahami slippage vs spread membantu trader membaca realisasi eksekusi order, menghitung risiko secara lebih akurat, dan menghindari kejutan biaya saat volatilitas meningkat.
Pengertian Spread
Apa itu spread dalam trading?
Spread adalah selisih antara harga bid (harga jual terbaik) dan ask (harga beli terbaik). Spread merupakan biaya implisit yang langsung dibayar trader saat masuk posisi.
Begitu posisi dibuka, trader sudah berada dalam kondisi rugi sebesar spread tersebut.
Kenapa spread selalu ada?
Spread muncul karena perbedaan kepentingan antara pembeli dan penjual, serta kompensasi bagi penyedia likuiditas. Pada aset yang likuid, spread biasanya sempit.
Sebaliknya, pada aset yang kurang likuid atau saat volatilitas tinggi, spread cenderung melebar.
Dampak spread ke hasil trading
Spread yang lebar meningkatkan biaya entry dan exit. Untuk strategi dengan target profit kecil seperti scalping, spread bisa menghabiskan sebagian besar potensi keuntungan.
Karena itu, spread perlu selalu diperhitungkan dalam risk-reward.
Pengertian Slippage
Apa itu slippage
Slippage adalah selisih antara harga yang diharapkan saat order dikirim dan harga aktual saat order tereksekusi.
Slippage terjadi ketika harga bergerak cepat atau likuiditas tidak cukup untuk mengisi order di level yang diinginkan.
Kapan slippage paling sering terjadi?
Slippage umum terjadi saat rilis berita penting, open market, atau pada aset dengan volume rendah. Market order paling rentan mengalami slippage.
Dalam kondisi ekstrem, slippage bisa jauh lebih besar dari spread.
Dampak slippage terhadap manajemen risiko
Slippage membuat risiko aktual lebih besar dari yang direncanakan. Stop loss bisa tereksekusi di harga yang lebih buruk, sehingga kerugian melebihi perhitungan awal.
Inilah alasan slippage sangat krusial bagi trader aktif.
Perbandingan Slippage vs Spread
Perbedaan sifat biaya
Spread bersifat pasti dan terlihat sebelum entry. Trader bisa langsung melihat spread dari quote bid dan ask.
Slippage bersifat tidak pasti dan baru diketahui setelah order tereksekusi.
Perbedaan waktu terjadinya
Spread selalu ada di setiap transaksi. Slippage hanya muncul di kondisi tertentu, terutama saat volatilitas tinggi atau likuiditas tipis.
Keduanya bisa muncul bersamaan dalam satu trade.
Hubungan dengan bid and ask
Spread berasal langsung dari selisih bid dan ask. Slippage terjadi ketika eksekusi melewati level bid atau ask yang tersedia.
Keduanya mencerminkan kualitas likuiditas pasar.
Menurut Coinbase, spread dan slippage merupakan komponen biaya trading yang sering diremehkan oleh trader ritel.
Contoh Nyata: Saat Spread dan Slippage Terjadi Bersamaan
Bayangkan sebuah saham normalnya memiliki spread 0,20. Saat berita besar dirilis, spread melebar menjadi 0,60 karena likuiditas menurun.
Trader mengirim market order karena takut ketinggalan pergerakan. Order tereksekusi di harga yang lebih buruk dari ask yang terlihat karena order book tipis.
Dalam satu transaksi, trader membayar spread yang lebih lebar sekaligus mengalami slippage. Inilah kenapa trading berbasis news sering menghasilkan biaya yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Dilansir dari FX Academy, kombinasi spread melebar dan slippage adalah penyebab utama hasil trading yang mengecewakan saat volatilitas ekstrem.
Dampak Slippage dan Spread ke Strategi Trading
Bagi day trader dan scalper, spread dan slippage sangat krusial karena target profit relatif kecil. Biaya implisit dapat menghapus seluruh edge.
Bagi swing trader, dampaknya lebih kecil per transaksi, tetapi tetap memengaruhi konsistensi jangka panjang.
Strategi yang terlihat bagus di chart bisa gagal setelah memperhitungkan biaya eksekusi.
Cara Mengelola Risiko Spread dan Slippage
Pilih aset dengan likuiditas tinggi dan spread sempit. Hindari trading saat rilis berita besar jika strategi tidak dirancang untuk kondisi tersebut.
Gunakan limit order untuk mengontrol harga, sambil memahami risiko order tidak terisi. Sesuaikan ukuran posisi saat volatilitas meningkat.
Yang terpenting, evaluasi performa trading dengan memasukkan biaya implisit, bukan hanya arah harga.
Kesalahan saat Mengelola Slippage dan Spread
Kesalahan paling umum adalah mengabaikan spread saat menghitung risk-reward. Kesalahan lain adalah selalu menggunakan market order tanpa mempertimbangkan kondisi likuiditas.
Banyak trader menyalahkan strategi, padahal masalahnya ada pada eksekusi dan biaya tersembunyi.
Kesimpulan
Slippage vs spread adalah dua sumber biaya trading yang berbeda namun saling terkait. Spread adalah biaya langsung dari bid dan ask, sedangkan slippage muncul akibat eksekusi yang tidak ideal.
Dalam kondisi volatil, keduanya bisa terjadi bersamaan dan berdampak signifikan pada hasil trading. Memahami dan mengelola spread serta slippage adalah bagian penting dari disiplin trading yang berkelanjutan.
Memahami perbedaan slippage vs spread membantu trader menghitung risiko secara lebih realistis, memilih jenis order yang tepat, dan menghindari kejutan biaya saat volatilitas meningkat.
Pantau bid–ask, spread, dan pergerakan harga secara real-time, lalu eksekusi trading dengan lebih terkontrol lewat Gotrade. Mulai trading di Gotrade Indonesia sekarang, dan bangun keputusan berbasis eksekusi yang lebih sadar biaya.
FAQ
Apa perbedaan slippage dan spread?
Spread adalah selisih bid dan ask, sedangkan slippage adalah perbedaan harga yang diharapkan dan harga eksekusi.
Apakah slippage selalu merugikan?
Tidak selalu, tetapi dalam praktik lebih sering merugikan terutama saat volatilitas tinggi.
Bagaimana cara mengurangi slippage dan spread?
Pilih aset likuid, hindari trading saat news besar, dan gunakan order type secara tepat.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











