Mental accounting adalah salah satu bias keuangan yang paling sering memengaruhi cara seseorang mengelola uang, sering kali tanpa disadari. Banyak keputusan keuangan terasa logis di kepala, tetapi jika dilihat secara objektif justru tidak efisien. Akibatnya, uang terasa cepat habis atau sulit berkembang meskipun penghasilan cukup.
Dalam konteks keuangan pribadi, memahami mental accounting penting karena bias ini memengaruhi cara kita memberi label pada uang, bukan bagaimana uang tersebut seharusnya digunakan.
Artikel ini membahas apa itu mental accounting, contoh konkretnya, dampaknya terhadap keputusan keuangan, dan cara menyederhanakan pengelolaan uang agar lebih rasional.
Memahami Konsep Mental Accounting
Mental accounting adalah kecenderungan seseorang untuk memisahkan uang ke dalam “pos” mental yang berbeda berdasarkan sumber, tujuan, atau label tertentu, bukan berdasarkan nilai ekonominya secara objektif.
Uang pada dasarnya bersifat netral. Namun dalam praktiknya, seseorang sering memperlakukan uang dengan label yang berbeda secara berbeda pula, meskipun nilainya sama.
Uang diperlakukan berbeda berdasarkan sumbernya
Uang gaji sering dianggap “uang serius”, sementara bonus atau uang tak terduga diperlakukan lebih longgar. Padahal, dari sisi nilai, uang tersebut memiliki fungsi yang sama. Perbedaan perlakuan ini adalah inti dari mental accounting.
Label psikologis lebih dominan daripada logika keuangan
Ketika uang sudah diberi label mental, keputusan keuangan sering diambil berdasarkan perasaan terhadap label tersebut, bukan kebutuhan atau prioritas sebenarnya.
Menurut Investopedia, mental accounting dapat menyebabkan seseorang membuat keputusan keuangan yang tidak optimal karena fokus pada kategori, bukan nilai total.
Contoh Mental Accounting dalam Kehidupan Sehari-hari
Mental accounting sering terlihat dalam keputusan sederhana yang tampak sepele, tetapi berdampak besar dalam jangka panjang.
1. Memisahkan uang berdasarkan sumber penghasilan
Seseorang bisa sangat hemat menggunakan gaji bulanan, tetapi mudah menghabiskan bonus untuk hal konsumtif.
Secara logika, uang bonus seharusnya bisa digunakan untuk tujuan yang sama pentingnya dengan gaji, seperti tabungan atau pelunasan kewajiban. Namun karena label “uang tambahan”, perlakuannya menjadi berbeda.
2. Menganggap uang tertentu tidak boleh disentuh
Sebaliknya, ada juga yang menahan uang di satu pos tertentu, meskipun secara keseluruhan kondisi keuangan sedang tertekan. Misalnya, menahan uang tabungan kecil tetapi tetap berutang di sisi lain.
Mental accounting membuat keputusan ini terasa benar, padahal secara total justru merugikan.
3. Mengabaikan gambaran keuangan secara keseluruhan
Ketika terlalu fokus pada pos-pos terpisah, seseorang bisa kehilangan pandangan menyeluruh terhadap kondisi keuangannya.
Uang terlihat “ada di mana-mana”, tetapi tidak terasa cukup. Ini sering membuat seseorang merasa kekurangan meskipun total asetnya sebenarnya memadai.
Dampak Mental Accounting terhadap Keputusan Keuangan
Mental accounting tidak selalu buruk, tetapi sering menjadi masalah ketika memicu keputusan yang tidak rasional.
1. Prioritas keuangan menjadi kabur
Keputusan diambil berdasarkan label, bukan urgensi. Akibatnya, kebutuhan penting bisa tertunda sementara pengeluaran kurang penting tetap berjalan. Ini membuat pengelolaan keuangan menjadi tidak efisien.
2. Risiko pemborosan meningkat
Uang yang diberi label “tambahan” atau “bonus” sering menjadi pemicu pemborosan.
Karena tidak dianggap bagian dari keuangan utama, kontrol terhadap penggunaannya lebih longgar.
Dalam jangka panjang, ini bisa menggerus kemampuan menabung atau berinvestasi.
3. Keputusan utang dan investasi menjadi tidak optimal
Mental accounting juga bisa membuat seseorang menunda melunasi kewajiban berbunga tinggi karena merasa uangnya “sudah dialokasikan” untuk hal lain.
Mengutip Corporate Finance Institute, bias perilaku seperti mental accounting sering membuat individu mempertahankan struktur keuangan yang tidak efisien meskipun ada alternatif yang lebih rasional.
Cara Menyederhanakan Pengelolaan Uang
Mengelola keuangan dengan lebih baik bukan berarti menghilangkan semua kategori, tetapi menyadari kapan mental accounting mulai merugikan.
1. Lihat uang sebagai satu kesatuan
Langkah pertama adalah melihat kondisi keuangan secara total. Fokus pada neraca pribadi, bukan hanya pos-pos terpisah.
Dengan perspektif ini, keputusan bisa diambil berdasarkan dampak keseluruhan, bukan perasaan terhadap satu kategori.
2. Tentukan prioritas berdasarkan tujuan, bukan sumber uang
Alih-alih bertanya “uang ini dari mana”, lebih relevan bertanya “uang ini sebaiknya digunakan untuk apa”.
Pendekatan ini membantu menyelaraskan pengeluaran dengan tujuan jangka panjang.
3. Sederhanakan jumlah pos keuangan
Terlalu banyak pos bisa memperkuat mental accounting. Menyederhanakan struktur membantu keputusan menjadi lebih jelas dan konsisten.
Yang penting bukan jumlah pos, tetapi kejelasan tujuan di baliknya.
4. Gunakan sistem, bukan intuisi sesaat
Sistem keuangan yang jelas membantu mengurangi keputusan impulsif. Dengan aturan yang konsisten, label mental menjadi kurang dominan. Ini membuat pengelolaan uang lebih objektif dan terukur.
5. Evaluasi keputusan secara berkala
Melihat kembali keputusan keuangan membantu mengenali pola mental accounting yang merugikan. Evaluasi ini penting agar kesalahan tidak berulang.
Kesimpulan
Mental accounting adalah bias umum yang memengaruhi cara seseorang mengelola uang. Dengan memisahkan uang berdasarkan label dan sumber, keputusan keuangan sering menjadi tidak rasional dan kurang efisien.
Dengan menyederhanakan pengelolaan uang, melihat keuangan secara menyeluruh, dan memprioritaskan tujuan di atas label, keputusan keuangan bisa menjadi lebih objektif.
Hal ini juga berkaitan langsung dengan keputusan investasi atau trading-mu, lho! Jika sudah memahami lebih jauh, maka kamu siap mulai trading via aplikasi Gotrade.
Download aplikasinya, buat akun Gotrade, dan mulai trading dari Rp15.000 sekarang!
FAQ
1. Apa itu mental accounting dalam keuangan pribadi?
Mental accounting adalah kecenderungan memisahkan uang berdasarkan label mental, bukan nilai ekonominya.
2. Apakah mental accounting selalu buruk?
Tidak selalu, tetapi bisa merugikan jika membuat keputusan keuangan menjadi tidak rasional.
3. Bagaimana cara mengurangi dampak mental accounting?
Dengan menyederhanakan pos keuangan dan fokus pada tujuan, bukan sumber uang.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











