Dalam pergerakan pasar keuangan global, tidak semua perubahan dipicu oleh kinerja perusahaan atau data ekonomi semata. Salah satu faktor paling kuat namun sering luput dipahami investor adalah liquidity cycle atau siklus likuiditas.
Banyak reli besar maupun kejatuhan pasar terjadi bukan karena fundamental berubah drastis, tetapi karena likuiditas masuk atau keluar dari sistem keuangan. Memahami liquidity cycle membantu investor membaca konteks besar di balik pergerakan saham, ETF, dan aset berisiko lainnya.
Artikel ini membahas arti siklus likuiditas dan hubungannya dengan kebijakan moneter seperti Quantitative Easing (QE) dan Quantitative Tightening (QT).
Arti Liquidity Cycle (Siklus Likuiditas)
Liquidity cycle adalah pola mengalir dan menyusutnya likuiditas dalam sistem keuangan seiring perubahan kebijakan moneter, kondisi ekonomi, dan sentimen risiko. Likuiditas di sini merujuk pada ketersediaan uang dan kemudahan akses pembiayaan di pasar.
Saat likuiditas melimpah, uang mudah mengalir ke berbagai aset. Saat likuiditas mengetat, akses dana menyempit dan aset berisiko cenderung tertekan. Siklus ini terjadi berulang dan sangat memengaruhi perilaku investor.
Liquidity cycle bukan sekadar tentang jumlah uang beredar, tetapi juga tentang seberapa mudah uang tersebut berpindah dan diinvestasikan.
Likuiditas berbeda dari suku bunga
Suku bunga adalah harga uang, sementara likuiditas adalah ketersediaannya. Suku bunga bisa rendah, tetapi likuiditas tetap ketat jika bank dan pasar enggan menyalurkan dana.
Karena itu, liquidity cycle tidak selalu bergerak sejalan dengan interest rate cycle.
Likuiditas sebagai bahan bakar pasar
Pasar saham dan ETF sangat sensitif terhadap likuiditas. Ketika likuiditas melimpah, valuasi bisa naik meski pertumbuhan laba moderat. Likuiditas sering menjadi pendorong awal pergerakan pasar.
Siklus likuiditas bersifat global
Dalam sistem keuangan global, likuiditas tidak hanya ditentukan oleh satu negara. Kebijakan bank sentral besar seperti Federal Reserve memiliki dampak luas ke pasar global.
Arus likuiditas lintas negara sangat signifikan.
Hubungan Liquidity Cycle dengan QE dan QT
Kebijakan moneter modern sangat erat kaitannya dengan liquidity cycle. Dua instrumen utama yang memengaruhi siklus ini adalah QE dan QT.
Quantitative Easing (QE) dan fase ekspansi likuiditas
QE adalah kebijakan bank sentral membeli aset keuangan seperti obligasi untuk menyuntikkan likuiditas ke sistem. Tujuannya adalah menurunkan biaya pembiayaan dan mendorong aktivitas ekonomi.
Dalam fase QE, likuiditas meningkat tajam. Uang cenderung mengalir ke saham, ETF, dan aset berisiko lainnya.
Pasar sering mengalami reli kuat di fase ini.
Dampak QE ke perilaku investor
Likuiditas berlimpah membuat investor lebih berani mengambil risiko. Valuasi naik, volatilitas cenderung rendah, dan narasi pasar menjadi optimistis.
Namun, reli berbasis likuiditas sering kali rapuh jika fundamental tidak mendukung.
Quantitative Tightening (QT) dan fase kontraksi likuiditas
QT adalah kebalikan dari QE. Bank sentral mengurangi neraca dengan menghentikan pembelian aset atau membiarkan obligasi jatuh tempo tanpa diganti.
Dalam fase QT, likuiditas menyusut. Akses dana mengetat dan pasar mulai selektif.
Aset berisiko biasanya mengalami tekanan.
Dampak QT ke pasar
QT sering memicu volatilitas tinggi. Harga aset bisa turun meski kinerja perusahaan tidak berubah drastis. Pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita negatif.
Menurut Federal Reserve, QE dan QT digunakan untuk mengelola kondisi likuiditas dan stabilitas sistem keuangan, bukan untuk mengatur harga aset secara langsung.
Dampak Liquidity Cycle ke Saham dan ETF
Liquidity cycle memengaruhi pasar secara luas, sering kali lebih cepat daripada perubahan fundamental.
Likuiditas tinggi dan pasar bullish
Saat likuiditas melimpah, saham dan ETF cenderung naik secara luas. Kenaikan ini sering tidak merata dan dipimpin oleh aset berisiko tinggi.
ETF indeks dan ETF growth biasanya diuntungkan.
Likuiditas mengetat dan koreksi pasar
Saat likuiditas menyusut, pasar menjadi lebih rapuh. Investor mulai mengurangi eksposur risiko dan beralih ke aset defensif. ETF defensif dan kas menjadi lebih menarik.
Dampak ke volatilitas
Likuiditas rendah meningkatkan volatilitas. Pergerakan harga menjadi lebih tajam karena sedikit transaksi bisa menggerakkan pasar. Inilah alasan pasar sering bergejolak di fase QT.
Hubungan likuiditas dan valuasi
Liquidity cycle sangat memengaruhi valuasi. Dalam fase likuiditas longgar, valuasi bisa naik lebih cepat daripada laba. Sebaliknya, saat likuiditas mengetat, valuasi terkompresi.
Dilansir dari situs MacroMicro, likuiditas pasar memainkan peran penting dalam menentukan stabilitas harga dan kemampuan investor untuk masuk dan keluar dari posisi.
Cara Investor Menyikapi Liquidity Cycle
Liquidity cycle tidak bisa dikendalikan investor, tetapi bisa dipahami dan diantisipasi.
Membaca arah kebijakan bank sentral
Sinyal QE atau QT memberi petunjuk awal arah likuiditas. Investor perlu memperhatikan komunikasi bank sentral, bukan hanya data ekonomi. Narasi kebijakan sering lebih penting dari angka.
Menyesuaikan eksposur risiko
Di fase likuiditas longgar, aset berisiko lebih mudah naik. Di fase likuiditas ketat, pendekatan defensif lebih relevan. Makanya, strategi harus adaptif.
Tidak mengandalkan likuiditas selamanya
Reli berbasis likuiditas bisa berakhir cepat saat kebijakan berubah. Investor perlu tetap memperhatikan kualitas aset. Likuiditas mendukung, bukan menggantikan fundamental.
Fokus pada horizon jangka menengah
Liquidity cycle bergerak dalam hitungan tahun. Reaksi jangka pendek sering menyesatkan.
Konteks siklus lebih penting daripada timing ekstrem.
Kesimpulan
Liquidity cycle adalah siklus naik turunnya likuiditas dalam sistem keuangan yang sangat memengaruhi pasar saham dan ETF. Siklus ini erat kaitannya dengan kebijakan QE dan QT yang dilakukan bank sentral.
Saat likuiditas melimpah, aset berisiko cenderung naik. Saat likuiditas menyusut, volatilitas meningkat dan pasar menjadi lebih selektif. Memahami liquidity cycle membantu investor membaca pergerakan pasar dengan lebih kontekstual dan menghindari reaksi emosional.
Untuk membangun strategi investasi yang adaptif terhadap perubahan likuiditas global, investor dapat memanfaatkan diversifikasi saham dan ETF melalui aplikasi investasi Gotrade Indonesia.
FAQ
Apa itu liquidity cycle?
Liquidity cycle adalah siklus mengalir dan menyusutnya likuiditas dalam sistem keuangan yang memengaruhi pasar aset.
Apa hubungan liquidity cycle dengan QE dan QT?
QE meningkatkan likuiditas, sementara QT menyerap likuiditas dari sistem keuangan.
Kenapa likuiditas penting bagi saham dan ETF?
Karena likuiditas memengaruhi valuasi, volatilitas, dan minat risiko investor.











