Volatilitas pasar sering membuat trader merasa “harus bertindak cepat”. Padahal, saat market bergerak agresif, kesalahan kecil dalam eksekusi bisa berubah menjadi kerugian besar. Banyak trader tidak kalah karena analisisnya salah, tetapi karena cara mengeksekusi order saat kondisi tidak normal.
Artikel ini fokus pada trading saat volatil dari sisi praktik: kesalahan eksekusi yang paling sering terjadi ketika volatilitas meningkat, kenapa itu berbahaya, dan bagaimana menghindarinya lewat disiplin sederhana.
Kesalahan Eksekusi saat Volatilitas Meningkat
1. Masuk pasar tanpa rencana risiko yang jelas
Saat volatilitas naik, pergerakan harga melebar dan cepat. Jika trader masuk tanpa stop loss, batas risiko, atau skenario invalidasi, posisi bisa melebar rugi sebelum sempat berpikir.
Eksekusi yang baik selalu dimulai dari “berapa risiko maksimal”, bukan “berapa potensi profit”.
2. Menggunakan market order di kondisi spread melebar
Di market volatil, spread bid-ask sering melebar. Market order bisa terisi di harga yang jauh lebih buruk dari ekspektasi, terutama pada aset dengan likuiditas menurun.
Dalam kondisi seperti ini, limit order sering lebih aman, meski risikonya tidak terisi.
3. Menggeser stop loss karena tidak tahan melihat floating loss
Salah satu kesalahan paling umum adalah memperlebar stop loss agar “tidak tersentuh”. Saat volatilitas tinggi, stop memang lebih mudah kena, tetapi menggeser stop membuat risiko per trade menjadi tidak terkendali.
Stop loss seharusnya merefleksikan invalidasi setup, bukan kenyamanan emosi.
4. Membesarkan ukuran posisi karena merasa “momentum sedang kuat”
Volatilitas sering terlihat seperti peluang besar. Banyak trader menaikkan ukuran posisi karena merasa peluang profit lebih cepat, padahal pergerakan berlawanan juga membesar.
Saat volatilitas naik, ukuran posisi idealnya justru diturunkan agar risiko tetap stabil.
5. Overtrading karena terlalu banyak sinyal palsu
Market volatil sering memunculkan breakout palsu, spike singkat, dan pergerakan ekstrem yang tidak berlanjut. Trader yang terpancing akan masuk terlalu sering dan menghabiskan modal lewat biaya transaksi dan kerugian kecil berulang.
Lebih sedikit trade dengan kualitas tinggi biasanya lebih efektif di fase ini.
6. Masuk terlalu cepat sebelum volatilitas “stabil” setelah news
Sesaat setelah rilis data ekonomi atau breaking news, harga bisa melonjak ke dua arah dengan cepat. Banyak trader masuk terlalu cepat hanya karena takut ketinggalan.
Sering kali lebih aman menunggu 5–15 menit sampai price action membentuk arah yang lebih jelas.
7. Mengabaikan slippage saat stop atau eksekusi cepat
Dalam volatilitas tinggi, slippage meningkat. Stop loss bisa terisi lebih buruk dari level yang ditetapkan, terutama jika harga bergerak cepat melewati area stop.
Trader yang tidak memperhitungkan slippage biasanya merasa “strateginya rusak”, padahal masalahnya ada di kondisi eksekusi.
8. Tidak menyesuaikan target profit dengan kondisi pasar
Beberapa trader tetap memakai target profit yang sama seperti market normal, padahal range harian membesar. Ini bisa membuat target terlalu dekat (mudah kena tetapi risk-reward buruk) atau terlalu jauh (jarang tercapai).
Target perlu selaras dengan volatilitas dan struktur pergerakan saat itu.
9. Mengandalkan satu indikator tanpa konteks kondisi market
Saat volatilitas tinggi, banyak indikator menghasilkan sinyal yang lebih “berisik”. Trader yang hanya mengikuti satu indikator sering terjebak masuk-keluar tanpa struktur.
Indikator seharusnya menjadi konfirmasi, bukan satu-satunya alasan entry.
10. Melakukan averaging down tanpa aturan
Ketika harga bergerak liar, averaging down bisa terasa masuk akal karena “harga makin murah”. Namun dalam volatilitas tinggi, harga bisa terus bergerak melawan posisi lebih lama dari yang trader sanggup tanggung.
Jika averaging down dilakukan, harus ada aturan ketat, bukan reaksi spontan.
11. Revenge trading setelah satu posisi “dihajar market”
Volatilitas tinggi memicu loss yang lebih emosional. Banyak trader mencoba “balas” kerugian dengan entry cepat berikutnya, sering kali tanpa setup yang valid.
Revenge trading mengubah satu kerugian normal menjadi rangkaian kerugian yang merusak akun.
12. Mengabaikan korelasi dan eksposur total
Saat volatilitas meningkat, banyak aset bergerak lebih serempak. Trader bisa merasa punya beberapa posisi berbeda, padahal semuanya sensitif terhadap faktor yang sama (misalnya risk-off).
Akibatnya, kerugian terjadi bersamaan meski terlihat “terdiversifikasi”.
Menurut Morgan Stanley, volatilitas tinggi memperbesar risiko eksekusi seperti slippage dan spread, sehingga manajemen risiko harus lebih ketat, bukan lebih longgar.
Kesimpulan
Kesalahan terbesar saat trading saat volatil biasanya bukan soal prediksi arah, tetapi soal eksekusi: masuk tanpa rencana, ukuran posisi terlalu besar, market order saat spread melebar, hingga overtrading karena noise. Saat volatilitas meningkat, prioritas utama adalah menjaga kontrol risiko dan kualitas eksekusi, bukan mengejar “gerakan besar”.
Trader yang bertahan lama biasanya justru lebih selektif saat market tidak stabil.
Saat volatilitas pasar meningkat, fokuskan pada eksekusi dan kontrol risiko. Pantau pergerakan market, spread, dan rencana entry dengan lebih disiplin lewat aplikasi Gotrade Indonesia agar keputusan tetap objektif.
Download aplikasi Gotrade Indonesia di Android dan iOS, mulai bangun rutinitas trading aman sekarang!
FAQ
Apakah volatilitas tinggi selalu buruk untuk trader?
Tidak selalu, tetapi risiko eksekusi dan noise meningkat, sehingga butuh disiplin lebih ketat.
Apa yang sebaiknya dilakukan saat market terlalu liar?
Kurangi ukuran posisi, batasi frekuensi trade, atau menunggu sampai arah lebih jelas.
Lebih aman market order atau limit order saat volatilitas tinggi?
Sering kali limit order lebih aman untuk menghindari harga terisi terlalu buruk, tetapi risikonya order tidak terisi.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











