Selain istilah doom scrolling (main media sosial berjam-jam), istilah doom spending juga semakin sering muncul di media sosial dan diskusi keuangan. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan Gen Z, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, tekanan sosial, dan kecemasan finansial jangka panjang. Alih-alih menabung atau berinvestasi, sebagian orang justru memilih membelanjakan uangnya sekarang.
Lalu, doom spending artinya apa, kenapa banyak terjadi pada Gen Z, dan bagaimana dampaknya terhadap tabungan serta investasi? Artikel ini membahas fenomena doom spending secara utuh, lengkap dengan contoh dan cara menguranginya.
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending adalah perilaku membelanjakan uang secara impulsif karena perasaan pesimis terhadap masa depan keuangan atau kondisi ekonomi.
Orang yang melakukan doom spending biasanya berpikir:
-
“Menabung percuma, masa depan tidak pasti.”
-
“Lebih baik dinikmati sekarang.”
-
“Toh beli rumah atau pensiun terasa mustahil.”
Berbeda dengan belanja impulsif biasa, doom spending dipicu oleh emosi dan kecemasan, bukan kebutuhan atau perencanaan.
Mengapa Doom Spending Banyak Terjadi pada Gen Z?
CNBC mengatakan, fenomena doom spending sering dilekatkan pada Gen Z bukan tanpa alasan.
Paparan ketidakpastian sejak dini
Gen Z tumbuh di tengah berbagai krisis, mulai dari pandemi, inflasi, isu resesi, hingga ketidakpastian lapangan kerja. Paparan ini membentuk persepsi bahwa masa depan sulit diprediksi.
Ketika masa depan terasa abu-abu, menunda kesenangan terasa tidak masuk akal.
Tekanan sosial dan digital
Media sosial memperkuat dorongan konsumsi. Melihat gaya hidup orang lain secara konstan bisa memicu perasaan tertinggal.
Doom spending sering menjadi cara cepat untuk merasa “baik-baik saja”, meski hanya sementara.
Jarak antara usaha dan hasil terasa jauh
Harga rumah, biaya hidup, dan standar hidup meningkat lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan bagi banyak Gen Z.
Ketika tujuan besar terasa tidak terjangkau, fokus sering bergeser ke kepuasan jangka pendek.
Kaitannya dengan Kecemasan Finansial
Doom spending sangat erat dengan financial anxiety.
Alih-alih menghadapi kecemasan dengan perencanaan, sebagian orang memilih menghindarinya lewat konsumsi. Belanja memberi rasa kontrol dan kenyamanan sesaat.
Namun efek ini cepat hilang, sementara kecemasan justru bisa bertambah karena kondisi keuangan memburuk.
Contoh Doom Spending dalam Kehidupan Sehari-hari
Beberapa contoh umum doom spending antara lain:
-
Sering membeli barang non-esensial saat merasa stres
-
Menghabiskan uang untuk pengalaman mahal tanpa perencanaan
-
Mengabaikan tabungan karena merasa “tidak akan cukup juga”
-
Menggunakan paylater atau kartu kredit untuk pelarian emosional
Perilaku ini sering dibenarkan dengan alasan self-reward, padahal akar masalahnya lebih dalam.
Dampak Doom Spending pada Tabungan dan Investasi
Doom spending bisa berdampak signifikan jika berlangsung terus-menerus.
Tabungan sulit terbentuk
Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk konsumsi, dana cadangan sulit terkumpul. Ini membuat keuangan semakin rapuh saat terjadi kejadian tak terduga.
Investasi tertunda atau diabaikan
Doom spending sering disertai anggapan bahwa investasi tidak akan cukup membantu. Akibatnya, peluang membangun aset jangka panjang terlewatkan.
Siklus stres finansial
Semakin sedikit tabungan dan investasi, semakin besar kecemasan finansial. Siklus ini bisa memperkuat doom spending itu sendiri.
Cara Mengurangi Doom Spending secara Realistis
Mengurangi doom spending bukan berarti menghilangkan kesenangan sepenuhnya.
Sadari pemicu emosional
Langkah pertama adalah mengenali kapan dan kenapa keinginan belanja muncul. Apakah karena stres, bosan, atau tekanan sosial? Kesadaran ini membantu memutus reaksi otomatis.
Tetapkan ruang untuk “guilt-free spending”
Melarang diri sepenuhnya justru bisa memicu pelampiasan. Alokasikan porsi kecil untuk konsumsi tanpa rasa bersalah, dengan batas yang jelas.
Bangun tujuan keuangan kecil dan konkret
Tujuan besar bisa terasa melelahkan. Memulai dari target kecil membantu mengembalikan rasa kontrol. Misalnya, menabung atau berinvestasi dari nominal yang ringan terlebih dahulu.
Ubah fokus dari pelarian ke progres
Doom spending memberi kenyamanan sementara. Progres kecil dalam keuangan memberi rasa aman yang lebih tahan lama.
Jika kamu ingin mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat tanpa tekanan berlebihan, kamu bisa mulai dari langkah kecil seperti menabung atau berinvestasi secara terukur melalui aplikasi Gotrade sesuai tujuan jangka panjangmu.
Kesimpulan
Doom spending adalah respons emosional terhadap ketidakpastian dan kecemasan finansial, yang banyak dialami Gen Z. Meski memberi kepuasan sesaat, perilaku ini bisa menggerus tabungan dan menunda investasi.
Memahami akar doom spending membantu kita melihat bahwa solusinya bukan sekadar menahan diri, tetapi membangun rasa aman finansial secara bertahap. Dengan pendekatan yang lebih sadar dan realistis, kebiasaan keuangan bisa diarahkan ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
FAQ
Apa itu doom spending?
Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif akibat pesimisme terhadap masa depan keuangan.
Kenapa Gen Z rentan doom spending?
Karena tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial digital, dan kecemasan finansial.
Apakah doom spending selalu buruk?
Tidak selalu, tetapi jika menjadi pola utama, dampaknya bisa merusak kondisi keuangan jangka panjang.












