Apa Itu Macro Risk (Risiko Makro)? Jenis dan Dampaknya

Apa Itu Macro Risk (Risiko Makro)? Jenis dan Dampaknya

Share this article

Dalam investasi, tidak semua risiko berasal dari kesalahan memilih saham atau timing masuk pasar. Banyak kerugian besar justru datang dari faktor di luar kendali perusahaan maupun investor, yaitu macro risk atau risiko makro. Risiko ini berasal dari kondisi ekonomi, kebijakan, dan peristiwa global yang memengaruhi pasar secara luas.

Memahami macro risk membantu investor melihat gambaran besar, bukan hanya fokus pada satu aset. Dengan perspektif ini, keputusan investasi bisa lebih realistis dan tidak mudah terjebak optimisme berlebihan.

Artikel ini membahas apa itu risiko makro, jenis-jenisnya, serta bagaimana faktor makro memengaruhi portofolio investasi.

Apa Itu Macro Risk (Risiko Makro)?

Macro risk adalah risiko yang berasal dari faktor ekonomi, kebijakan, dan peristiwa sistemik yang berdampak luas ke pasar keuangan. Risiko ini tidak bisa dihindari hanya dengan memilih saham bagus, karena efeknya biasanya menyentuh hampir semua aset.

Berbeda dengan risiko perusahaan atau sektor, macro risk bersifat menyeluruh. Saat risiko makro meningkat, korelasi antar aset sering naik, sehingga diversifikasi menjadi kurang efektif dalam jangka pendek.

Macro risk sering menjadi penyebab utama volatilitas pasar secara tiba-tiba.

Risiko makro bersifat top-down

Risiko makro bekerja dari level ekonomi dan kebijakan, lalu menurun ke sektor dan perusahaan. Bahkan bisnis dengan fundamental kuat tetap bisa terdampak.

Inilah alasan pasar bisa turun serentak.

Risiko makro sulit diprediksi secara presisi

Banyak risiko makro muncul dari perubahan kebijakan atau kejadian global yang tidak terjadwal. Investor tidak bisa mengontrolnya, tetapi bisa mengantisipasinya.

Kesadaran lebih penting daripada prediksi.

Risiko makro memengaruhi sentimen dan likuiditas

Selain fundamental, macro risk memengaruhi psikologi investor dan aliran likuiditas. Saat risiko meningkat, investor cenderung menghindari aset berisiko.

Reaksi pasar sering kali lebih cepat dari data ekonomi.

Jenis-Jenis Macro Risk yang Perlu Dipahami

Risiko makro hadir dalam berbagai bentuk. Memahami ragamnya membantu investor mengenali sumber tekanan dalam portofolio.

Risiko suku bunga

Perubahan suku bunga memengaruhi biaya modal, valuasi saham, dan harga obligasi. Kenaikan suku bunga biasanya menekan aset berisiko, sementara penurunan suku bunga mendukung likuiditas.

Risiko ini sangat relevan bagi saham growth dan ETF obligasi.

Risiko inflasi

Inflasi yang tinggi menggerus daya beli dan meningkatkan ketidakpastian kebijakan. Inflasi juga mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.

Aset yang tidak mampu melindungi nilai sering tertinggal.

Risiko kebijakan moneter

Kebijakan seperti Quantitative Easing (QE) dan Quantitative Tightening (QT) memengaruhi likuiditas pasar. Perubahan arah kebijakan bisa mengubah sentimen secara cepat.

Pasar sering bereaksi terhadap ekspektasi, bukan hanya kebijakan aktual.

Risiko fiskal dan kebijakan pemerintah

Defisit anggaran, perubahan pajak, atau regulasi baru dapat memengaruhi sektor tertentu maupun pasar secara keseluruhan.

Kebijakan fiskal sering berdampak jangka menengah.

Risiko geopolitik

Konflik, perang, atau ketegangan politik dapat memicu lonjakan volatilitas. Risiko ini sering berdampak ke energi, mata uang, dan pasar global. Nyatanya, ketidakpastian geopolitik sulit dimodelkan.

Risiko nilai tukar

Perubahan kurs mata uang memengaruhi return investor lintas negara. Penguatan atau pelemahan mata uang bisa memperbesar atau mengurangi hasil investasi.

Risiko ini penting bagi investor global.

Risiko resesi ekonomi

Perlambatan atau kontraksi ekonomi berdampak luas ke pendapatan perusahaan dan pasar tenaga kerja. Resesi sering diikuti koreksi pasar. Tidak semua sektor terdampak sama, tetapi efeknya tetap luas.

Dilansir dari Investopedia, macro risk mencakup risiko ekonomi, politik, dan sistemik yang dapat memengaruhi seluruh pasar keuangan.

Cara Macro Risk Memengaruhi Portofolio Investasi

Macro risk tidak selalu langsung terlihat, tetapi dampaknya signifikan terhadap kinerja portofolio.

Meningkatkan korelasi antar aset

Saat risiko makro meningkat, aset yang biasanya tidak berkorelasi bisa bergerak searah. Diversifikasi lintas saham saja sering tidak cukup. Inilah yang terjadi saat krisis.

Menekan valuasi dan ekspektasi return

Risiko makro meningkatkan ketidakpastian, sehingga investor menuntut premi risiko lebih tinggi. Akibatnya, valuasi aset tertekan. Return jangka pendek bisa terganggu.

Mengubah rotasi sektor

Perubahan makro sering memicu rotasi sektor. Sektor defensif cenderung diuntungkan saat risiko tinggi, sementara sektor siklikal lebih sensitif. Makanya, portofolio perlu adaptif.

Mempengaruhi arus dana global

Macro risk memengaruhi aliran dana antar negara dan kelas aset. Likuiditas bisa berpindah cepat ke aset yang dianggap lebih aman. ETF global sering mencerminkan arus ini.

Menguji manajemen risiko investor

Risiko makro sering menjadi ujian disiplin. Banyak investor menjual di saat panik atau membeli di puncak optimisme. Reaksi emosional memperbesar dampak risiko.

Cara Investor Menghadapi Macro Risk

Macro risk tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Memahami konteks makro, bukan headline

Satu berita makro jarang berdiri sendiri. Investor perlu melihat tren dan siklus ekonomi secara utuh.

Konteks lebih penting daripada kejutan sesaat.

Menjaga diversifikasi lintas aset

Diversifikasi saham, ETF, obligasi, dan aset defensif membantu meredam dampak risiko makro.

Tidak ada aset yang selalu aman.

Menyesuaikan ekspektasi sesuai siklus

Setiap fase ekonomi memiliki karakter risiko berbeda. Ekspektasi return perlu disesuaikan agar tidak berlebihan. Realistis menjaga konsistensi.

Fokus pada horizon jangka menengah

Macro risk sering bersifat siklis. Keputusan impulsif jangka pendek justru merugikan. Waktu adalah alat manajemen risiko.

Disiplin pada strategi

Strategi yang jelas membantu investor tidak terombang-ambing oleh perubahan makro. Disiplin lebih penting dari prediksi.

Kesimpulan

Macro risk adalah risiko yang berasal dari faktor ekonomi, kebijakan, dan peristiwa global yang memengaruhi pasar secara luas. Risiko ini mencakup suku bunga, inflasi, kebijakan moneter, geopolitik, hingga risiko resesi. Dampaknya terasa pada valuasi, volatilitas, dan korelasi aset dalam portofolio.

Investor tidak bisa menghindari macro risk, tetapi bisa mengelolanya dengan memahami konteks makro, menjaga diversifikasi, dan bersikap disiplin terhadap strategi. Dengan perspektif makro yang baik, keputusan investasi menjadi lebih rasional dan tidak mudah terjebak gejolak jangka pendek.

Untuk mengelola eksposur makro global, investor dapat memanfaatkan diversifikasi saham dan ETF internasional melalui Gotrade Indonesia.

FAQ

Apa itu macro risk?
Macro risk adalah risiko yang berasal dari faktor ekonomi, kebijakan, dan peristiwa global yang berdampak luas ke pasar keuangan.

Apakah macro risk bisa dihindari dengan pilih saham bagus?
Tidak sepenuhnya, karena risiko makro memengaruhi pasar secara menyeluruh, termasuk saham berkualitas.

Bagaimana cara mengelola macro risk dalam portofolio?
Dengan memahami siklus ekonomi, menjaga diversifikasi, dan disiplin pada strategi investasi.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade